Niat dan Tata Cara Pelaksanaan Puasa Ayyamul Bidh yang Wajib Diketahui

Puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu bentuk ibadah sunah yang sangat berarti dalam kalender Hijriah. Dikenal sebagai hari-hari yang malamnya dipenuhi dengan cahaya bulan purnama, ibadah ini sering ditunggu-tunggu oleh umat Islam yang ingin lebih dekat kepada Allah SWT. Melaksanakan puasa ini adalah salah satu cara untuk mengikuti teladan Rasulullah SAW, yang selalu menjalankannya semasa hidupnya. Melalui puasa Ayyamul Bidh, umat Islam memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlimpah di luar bulan Ramadan. Selain itu, kehadirannya berfungsi sebagai pengingat untuk terus menjaga konsistensi dalam beribadah secara rutin. Oleh karena itu, memahami hukum, niat, hingga tata cara pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh sangatlah penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan ajaran yang telah ditetapkan. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai puasa Ayyamul Bidh.
Hukum Pelaksanaan Puasa Ayyamul Bidh
Dari berbagai riwayat hadis Rasulullah SAW, para ulama sepakat bahwa puasa Ayyamul Bidh termasuk dalam kategori sunnah muakkad, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Hal ini mengacu pada kebiasaan Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan puasa ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ في حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ. (رواه النسائي)
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah SAW sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian’.” (HR an-Nasa’i). Selain itu, Rasulullah SAW juga secara eksplisit memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah:
وَعَنْ قَتَادَةَ بْنِ مِلْحَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيْضِ: ثَلاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ. (رواه أَبُو داود)
Artinya: “Diriwayatkan dari Qatadah bin Milhan ra, ia berkata: ‘Rasulullah SAW telah memerintah kami untuk berpuasa pada hari-hari yang malamnya cerah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15’.” (HR Abu Dawud). Namun, untuk bulan Dzulhijjah, karena tanggal 13 bertepatan dengan Hari Tasyrik yang diharamkan untuk berpuasa, maka menurut mazhab Syafi’i, pelaksanaannya digeser menjadi tanggal 14, 15, dan 16 Dzulhijjah.
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh
Menjalankan puasa pada tiga hari di pertengahan bulan ini memiliki nilai pahala yang sangat besar, setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap amal kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَة أَيَّام، فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَصْدِيقَ ذَلِكَ فِي كِتَابهِ الْكَرِيم: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَة فَلهُ عشر أَمْثَالهَا [الأنعام: 160]. اَلْيَوْمُ بِعشْرَةِ أَيَّامٍ . (رَوَاهُ ابْن ماجة وَالتِّرْمِذِيّ)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, sungguh Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka puasa tersebut seperti puasa sepanjang tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam kitabnya yang mulia karena membenarkan hal tersebut: ‘Siapa saja yang datang dengan kebaikan maka baginya pahala 10 kali lipatnya’ [QS al-An’am: 160]. Satu hari sama dengan 10 hari’.” (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).
Niat Puasa Ayyamul Bidh
Niat adalah rukun utama dalam menjalankan ibadah. Untuk melaksanakan puasa Ayyamul Bidh, niat bisa diucapkan sejak malam hari hingga sebelum waktu zuhur pada siang harinya, asalkan tidak mengonsumsi makanan atau minuman apapun sejak subuh. Berikut adalah lafadz niat yang bisa diucapkan:
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah) karena Allah ta’ala.”
Tata Cara Pelaksanaan Puasa Ayyamul Bidh
Tata cara melaksanakan puasa Ayyamul Bidh mirip dengan puasa pada umumnya. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan:
- Menyiapkan niat dalam hati. Walaupun boleh berniat secara umum, lebih baik jika menggunakan niat khusus.
- Sangat dianjurkan untuk mengucapkan niat di akhir waktu, dekat dengan imsak atau subuh.
- Menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan atau minum.
- Menghindari perbuatan dosa, seperti menggunjing atau berkata kasar agar puasa tidak sia-sia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
- كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعِ وَالْعَطَشِ (رواه النسائي وابن ماجه)
Artinya: “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Menjaga kesucian puasa sangatlah penting, oleh karena itu, penting juga untuk menyegerakan berbuka ketika waktu Magrib tiba.
Demikianlah informasi lengkap mengenai niat dan tata cara pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh, termasuk hukum dan keutamaannya. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi kita semua dalam melaksanakan ibadah ini dengan lebih baik.
➡️ Baca Juga: Na Willa Mendapatkan Pujian, Mengangkat Cerita Menyenangkan tentang Persahabatan
➡️ Baca Juga: Indrak, Spesialis SEO, Ungkap Rasa Duka Cita Atas Kepergian Vidi Aldiano, Kolaborator Lay EXO




