RI Hadapi Ancaman ‘Strategic Invisibility Trap’ Akibat Perang Iran, Peneliti Uhamka Bahas Dampaknya

Di tengah ketegangan global yang meningkat akibat Perang Iran yang terjadi pada tahun 2026, Indonesia menghadapi ancaman yang tidak hanya bersifat ekonomi, seperti peningkatan harga minyak dan tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ancaman yang lebih signifikan adalah hilangnya posisi Indonesia dalam perhatian dunia, sebuah fenomena yang diungkap oleh Dr. Emaridial Ulza, peneliti dari Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan pendiri Global Trust Intelligence (GTI). Dalam laporan strategisnya yang mendalam, Dr. Ulza menjelaskan bahwa Indonesia saat ini terjebak dalam apa yang disebut sebagai ‘strategic invisibility trap’. Laporan ini, yang mencakup lebih dari 35 halaman dan mengacu pada ratusan sumber internasional, menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya tidak mendapatkan perhatian, tetapi juga terabaikan dalam narasi global.
Pemahaman Tentang ‘Strategic Invisibility Trap’
Menurut Dr. Emaridial, ‘strategic invisibility trap’ bukan berarti Indonesia dipersepsikan secara negatif oleh komunitas internasional. Sebaliknya, kondisi ini menunjukkan ketidakadaan Indonesia dalam wacana global. Dalam era di mana informasi tersebar dengan cepat, sebuah negara yang tidak aktif dalam membangun narasi publik akan berisiko tidak diperhitungkan dalam berbagai konteks, termasuk investasi dan diplomasi.
Dr. Ulza menekankan bahwa dalam perspektif pemasaran internasional dan neurosains keputusan kolektif, aktor pasar global dan masyarakat internasional lebih cenderung dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul, dibandingkan dengan sekadar data yang ada. Ini menunjukkan bahwa negara yang tidak mampu membangun narasi positif berpotensi kehilangan perhatian dunia, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang signifikan.
Perbandingan dengan Iran
Fenomena ini semakin jelas ketika membandingkan posisi Indonesia dengan Iran. Walaupun Iran terjebak dalam konflik besar, negara tersebut tetap aktif di berbagai forum global dan menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas. Sebaliknya, Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, tidak muncul sebagai aktor penting dalam narasi global.
Dampak Ekonomi dari Kehilangan Narasi Global
Dampak dari kondisi ‘strategic invisibility trap’ ini bukan hanya sekadar masalah citra, tetapi juga mengancam ekonomi Indonesia. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terhadap Indonesia terganggu, dampaknya bisa sangat nyata, seperti tertundanya investasi asing, peningkatan biaya pinjaman, dan potensi keluarnya modal dari dalam negeri.
Lebih lanjut, laporan Dr. Ulza juga membahas tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, di mana tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—menghadapi tekanan secara bersamaan. Situasi ini berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.
Potensi Geopolitik yang Lebih Luas
Selain dampak ekonomi, laporan ini juga mengidentifikasi potensi dampak geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah diperkirakan mulai mendorong negara-negara ASEAN untuk bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan. Pergeseran ini dapat memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.
Keunggulan yang Belum Dimanfaatkan
Ironisnya, di tengah berbagai tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global. Di antara keunggulan tersebut adalah keberhasilan dalam menghimpun pajak ekonomi digital, yang menempatkan Indonesia di posisi tiga besar dunia. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis juga menjadi salah satu investasi terbesar dalam pengembangan sumber daya manusia di kawasan.
Namun, Dr. Emaridial menyoroti bahwa keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan dengan efektif di tingkat global. Ia menekankan bahwa di era saat ini, narasi bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor yang sangat menentukan arah ekonomi sebuah negara. Jika sebuah negara tidak mampu memberikan definisi yang jelas tentang dirinya, maka dunia tidak akan menganggapnya sebagai aktor yang penting.
Kerangka Global Trust Intelligence (GTI)
Laporan Dr. Ulza disusun dengan menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), yang mengintegrasikan pemasaran internasional, neurosains, ketahanan non-militer, dan ekonomi Keynesian. Pendekatan ini membantu untuk memahami keterkaitan antara isu-isu yang sering kali terabaikan dalam analisis konvensional. Dalam dunia yang semakin kompetitif dari segi narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan: tetap menjadi penonton dalam percakapan global atau mulai membangun posisi sebagai aktor yang diperhitungkan.
Membangun Narasi untuk Masa Depan
Di era global saat ini, ketidaknampakan berisiko untuk dianggap tidak ada. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk secara aktif membentuk narasi yang kuat dan positif. Hal ini akan membantu Indonesia untuk tampil sebagai aktor yang diperhitungkan dalam kancah internasional, sekaligus memperkuat posisi ekonomi dan geopolitiknya.
Dalam konteks ini, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu berkolaborasi untuk mengembangkan strategi komunikasi yang efektif, yang tidak hanya mencakup sektor ekonomi, tetapi juga budaya, pendidikan, dan inovasi. Dengan demikian, Indonesia dapat mulai mengambil langkah untuk mengatasi tantangan yang dihadapi saat ini dan memanfaatkan potensi yang ada.
Langkah-Langkah Strategis yang Perlu Diambil
Untuk menghindari ‘strategic invisibility trap’, Indonesia perlu mempertimbangkan langkah-langkah strategis berikut:
- Memperkuat diplomasi publik untuk meningkatkan citra positif di mata dunia.
- Membangun kemitraan internasional yang lebih kuat di berbagai sektor.
- Menonjolkan prestasi dan inovasi di bidang teknologi dan ekonomi digital.
- Melakukan kampanye komunikasi yang efektif untuk mempromosikan budaya dan nilai-nilai Indonesia.
- Meningkatkan partisipasi dalam forum-forum internasional yang relevan.
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya akan meningkatkan visibilitasnya di panggung global, tetapi juga akan memperkuat daya tawar dalam berbagai aspek diplomasi dan ekonomi. Di tengah perubahan dinamika global, menjadi terlihat dan relevan adalah kunci untuk memastikan bahwa Indonesia tetap diakui sebagai salah satu aktor penting di arena internasional.
➡️ Baca Juga: Tren “Digital Detox”: Perlukah Kita Istirahat dari Gadget?
➡️ Baca Juga: Keamanan Maksimal Jetour T2 Selama Perjalanan, Atap Ekstra Kuat!




