Ubisoft, sebuah nama besar dalam industri game, telah berada dalam persimpangan dalam beberapa tahun terakhir. Menyaksikan penurunan saham, game yang tidak memenuhi harapan, dan berbagai masalah lainnya, perusahaan ini telah mencari aliansi baru dengan Tencent untuk melindungi masa depannya. Namun, suara-suara terbaru dari dalam perusahaan, khususnya dari mantan karyawan, menunjukkan pandangan yang lebih suram, dengan Ubisoft digambarkan sebagai “musuh publik.”
Ubisoft: Dari Prestise ke Kontroversi
Beberapa waktu lalu, sebuah narasi mengejutkan muncul yang dipicu oleh komentar dari mantan karyawan Ubisoft. Perusahaan ini, menurut mereka, telah berubah menjadi “musuh publik”. Tapi, apa yang mendorong opini ini?
Dalam laporan yang dirilis oleh GameFile, mereka mengungkapkan beberapa masalah serius yang melanda Ubisoft, termasuk pandangan mantan karyawan yang menggambarkan perusahaan ini dalam cahaya negatif.
Ubisoft: Musuh Publik?
Menurut mantan karyawan yang tidak disebut namanya, reputasi Ubisoft saat ini sangat buruk, bahkan di antara karyawan sendirinya. Ia menegaskan bahwa sebagian besar publik sekarang membenci perusahaan tersebut, mengarah pada labelnya sebagai “musuh publik”.
Alasan di balik sentimen negatif ini, menurut laporan GameFile, berakar pada serangkaian kegagalan manajemen sepanjang dekade terakhir. Salah satu masalah utama adalah pola pengembangan game Ubisoft yang seragam dan repetitif, yang membuat pemain merasa jenuh.
Keputusan Manajemen yang Kontroversial
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa sentimen negatif ini diperparah oleh keputusan manajemen yang terus menerus mendorong tren seperti game Live-Service, rilis game yang mengecewakan, dan trauma yang tersisa dari skandal budaya kerja pada tahun 2020.
Mantan karyawan tersebut merasa bahwa manajemen senior telah mengevaluasi dan mengakui kesalahan strategi mereka, tetapi malah mengorbankan karyawan level bawah ketika proyek gagal.
Pengaruh Dari Masalah Internal
Sumber yang sama juga menjelaskan bagaimana Ubisoft dihantui oleh berbagai faktor yang menjadi masalah internal. Menurut mantan karyawan tersebut, perusahaan memiliki kebiasaan menjalankan banyak proyek game secara bersamaan, yang mengakibatkan tim pengembang kurang fokus.
Ini berdampak fatal, dengan sumber daya tim mereka terbagi, proyek game lambat dalam penyelesaian, dan proyek lain ditunda atau bahkan dibatalkan. Situasi ini dianggap tidak efisien dan menghalangi pencapaian kualitas terbaik.
Manajemen yang Kurang Efektif
Ada juga masalah dengan manajemen mereka yang berdampak pada pengembangan game, proyek yang terus menerus bermasalah, dan kurangnya akuntabilitas dari pihak manajemen. Akibatnya, tim pengembang harus merasakan dampak melalui restrukturisasi dan PHK.
Harapan Untuk Masa Depan
Meskipun demikian, laporan tersebut juga mencatat bahwa Ubisoft masih memiliki potensi untuk bangkit dari kondisi saat ini. Mantan karyawan tersebut percaya bahwa ada kemungkinan perusahaan ini dapat pulih dan sukses dengan game baru mereka jika masalah internalnya bisa diperbaiki mulai sekarang.
Itulah pandangan mantan karyawan Ubisoft tentang perusahaan tersebut sebagai “musuh publik”, yang disebabkan oleh berbagai faktor dan masalah internal mereka. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?
Untuk informasi lebih lanjut dan pertanyaan lainnya, Anda dapat menghubungi kami melalui author@gamebrott.com.
➡️ Baca Juga: Indonesia Terima Investasi Baru Rp8 Triliun dari Perusahaan Jepang
➡️ Baca Juga: Erick Thohir Tinjau Proyek PLTS Terbesar di Nusa Tenggara
